viaje
-->{journey}

canta
July 10th 1982  (Age 26)
Female
Indonesia
   

<< August 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


Like a drunken speech, this is as close as it gets to honesty. Some you may understand, some you may not. Please do listen and dance to it the way you treat the ecstasy of music, I beseech. Remember, it's only me.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed










 
Jan 15, 2008
Jangan Marah..

Saya yakin kalian-kalian yang pacaran pernah dirayu dengan kata-kata 'jangan marah'. contohnya 'Yang, jangan marah dong...', 'Cinta, kamu marah ya?jangan dong'.

Toooowwwloooonnggg yaaa...masa iya orang marah2 nggak pake sebab. Kecuali sedang PMS, ya mungkin sudah sakit jiwa kali ya. Pasti pihak yang mengatakan 'jangan marah' itu sudah melakukan sesuatu yang membuat si pihak penderita rayuan itu marah, kesal, murka, kalab...jadi kenapa situ udah tau salah pake ngelarang-larang sini marah,coba?

misteri...

udah untung yang marah itu nggak balas dendam atau bawa perkara ke pengadilan. Marah itu adalah cara penyaluran rasa gondok di hati yang kalau nggak dikeluarkan bisa jadi penyakit. Marah memang nggak baik, tapi bikin orang marah juga nggak baik..huh!! Sekalian aja bilang jangan seneng, jangan ketawa, jangan sedih. Mang kite customer service yang mesti pasang tampang pelayanan setiap saat??

jadi tolong ya bagi kalian2 yang suka bikin kesal pasangannya, jangan larang pasangan kalian untuk marah. Mungkin itu satu-satunya privilisenya dia menghadapi anda yang suka ngeselin Cukup ucapkan 'maaf'. Gampang kan?

(ditulis oleh orang yang susah minta maaf dan gampang bikin kesal orang lain. wehwehwhewhewhewhweee)
Posted at 04:18 am by canta
Comment (1)  

 
Jan 8, 2008
RUSAK
Rengkuh kisah insan lain
Saat milikku berhamburan
Ingin kubedah dirimu
Remukkan yang kubenci
Harusnya ini bertahan..
Harusnya aku bertahan..
Harusnya tak ada peringatan
bahwa aku perempuan

Krakk!!
Kompasku rusak....

Posted at 07:33 pm by canta
Make a comment  

 
Dec 19, 2007
Saya Kenapa?
Entah mengapa saya merasakan ganjalan aneh setiap kali saya diajak pergi dengan orang-orang itu. Saya nggak tau kenapa. Setengah perjalanan pasti saya merasa resah. Mau pulang. Mau jalan sendiri saja. Seperti anak kecil yang merajuk kalau diajak jalan-jalan oleh orang tuanya untuk berbelanja atau ke rumah saudara. Saya sampai bingung sendiri. Kenapa dengan saya ini. Apakah saya atau mereka yang nggak beres.

pertama, mungkin karena saya risih meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk. Maklum, sedang tidak punya penghasilan tetap dan maunya kejar setoran terus dengan tugas-tugas freelance. Tapi sesampainya di rumah pun saya nggak semangat juga untuk bekerja.

kedua, mungkin saya tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu. Maaf, saya kurang ajar sekali menggunakan frase 'orang itu', karena sebenarnya mereka teman-teman saya. Jangan salah, saya suka dengan mereka. Namun di saat seperti kemarin saya seolah tidak mengenal mereka. Saya lebih suka saat berkumpul dengan mereka di suasana sederhana. Menonton acara musik. Bermain gitar. Bermain kartu.

mungkin sekali lagi masalahnya bukan di mereka, tapi di saya. karena kejenuhan dan kekesalan saya terhadap banyak hal. Entahlah, sampai-sampai semalam saya nggak tahan lagi dan menangis mengingatnya. saya sedikit takut dengan masa depan. Akan jadi orang seperti apa saya? akankah lebih busuk dari yang sekarang ini?

Akhirnya saya memutuskan untuk ikhlas saja lah. Jangan terlalu banyak berambisi yang muluk-muluk dan jangan rakus. Tuhan akan memberikan, saat kamu memberikan dirimu pada Nya. Semoga saya terus bisa sedamai itu...

Posted at 07:38 pm by canta
Make a comment  

 
Dec 15, 2007
Hitung..hitung...bayar..pergi
Saya berpacaran dengan laki-laki yang berkelakuan easy going dalam perihal uang. Harus diakui, keadaannya yang belum dapat pekerjaan tetap dan one n another thing membuatnya terpaksa mengerem dikit dalam hal perbelanjaan dan hura-hura. Still, if I were in his shoes mungkin saya sudah menyerempet stress berat. Tapi dia masih bisa optimis dan nggak ngomel-ngomel soal kekurangan finansialnya setiap saat setiap waktu. Kalau saya, mungkin muka saya sudah bertekuk 15 mirip kipas noni belanda.

dan satu hal yang paling dibencinya adalah orang-orang yang perhitungan. Yang kalau diajak patungan nggak mau rugi meskipun 'cuma' Rp 500. Hingga, saat dia berpacaran dengan seseorang yang harus diyakinkan dua kali bahwa uangnya untuk makan siomay hari ini akan diganti besok, it was a major turn-off. Dia nggak ngerti kenapa orang bisa so uptight about money. Terkadang saya juga mengeluarkan kata-kata seperti 'beneran ya diganti' atau 'lo tambahin kek, masa gw segini', dan Ia terkadang sebal juga. Dia pun bingung melihat attitude beberapa teman perempuan saya soal uang-yang berusaha hemat setiap saat setiap waktu. Sampai-sampai dia bertanya,'apa semua teman kamu begitu?'

Hihihi..mungkin seharusnya pertanyaan yang diajukannya adalah,'apa semua cewek begitu?'. Wajar saja, menurut saya sifat boros itu sangat khas laki-laki. Selama ini mungkin Ia kurang memperhatikan sifat perempuan yang satu ini.

Padahal, kalau kita cermat sedikit, sifat khas ini mudah terlihat dimana-mana. Baru semalam saya duduk berseberangan dengan abg-abg cewek di sebuah warung tenda yang katanya kondang berat di daerah saya. mungkin mereka masih sekitar kelas 2 SMP. Biasalah, mereka talipun2an, cekikikan, bercanda (hiks..jadi rindu masa seperti itu), tapi saat bon datang, hitung-hitungan pun dimulai.
'Lo mesen apa tadi?' ,
'berarti gw kasih segini ya'
, 'kembalinya nih, lo kan tadi ngasih lebih',
'yah nggak ada secengan'
,'ya udah ni gw kasih dua ribu tapi gw dapet gocengannya',
'pas kan?'
'sip, masih ada buat patungan bajaj kan? balik yuk'

itulah cewek. Nggak beda sama saya dan teman-teman saya kalau lagi makan-makan, nonton, dll. Daripada nanti ada yang ngerasa nggak enak atau malah keenakan (jadi ngelunjak), lebih baik kita hitung-hitungan sampai ke hitungan per seribu pun (ya nggak sampai cepekan pun dihitung sih). Dan kalau memang nggak ada uang ya mendingan nggak usah ikut, daripada nanti ngerepotin. Sedangkan yang saya perhatikan dari pacar saya dan teman-temannya adalah 'yang penting ikut, soal siapa yang bayarin gampang lah'. Sedangkan kebanyakan teman-teman perempuan saya nggak tenang kemana-mana kalau tidak ada setidaknya duapuluh ribu di kantong untuk jaga-jaga. Kalau perlu nabung dulu seminggu biar bisa ikut jalan.

kenapa cewek seolah lebih perhitungan soal uang dan patungan ketimbang cowok? mungkin ada beberapa alasan

waktu kecil, kebanyakan anak cewek model themselves after their mothers. Dan kebetulan yang mengatur keuangan rumah tangga adalah para Ibu. So what did they see? keahlian ibunya membuat daftar belanja yang efektif, efisien dan bergizi. perhitungan ibunya dalam membagi-bagi jatah makanan dan jajan tiap anggota keluarga. Bahkan ada yang ikut-ikutan jatah-jatahin makanan buat bonekanya atau teman-temannya saat main rumah-rumahan. Anak cowok? main perang-perangan, main polisi-polisian, dan mainan lain yang mengutamakan kemenangan, bukan efisiensi dan penghematan. Begitulah. Laki-laki berusaha untuk survive dengan cara 'menang' sementara perempuan berusaha survive dengan cara 'tepat guna'

Kedua, ini memang zaman modern, tapi toh masih lebih banyak diterima cowok mentraktir cewek. Harus diakui bahwa cowok lebih terbiasa spend their money on someone else. Sementara para perempuan masih berusaha membuktikan kemandirian mereka. Berusaha mati-matian di dunia karir dan mengatur kehidupan mereka sendiri. Pekerjaan mereka sendiri, uang mereka sendiri. Hayo semuanya nyanyi 'Independent Woman'nya Destiny's Child. The last thing they need adalah sesuatu yang mengganggu rencana keuangan mereka. Baik itu cowok maupun teman cewek.

Sifat 'perhitungan' ini lebih terlihat kala seorang cewek berada diantara teman-teman ceweknya, atau bersama pacarnya. Bukan teman cowoknya, ya. Contohnya adalah saya. Waktu pertama kali diperkenalkan pada dunia yang didominasi laki-laki, saya pun kaget melihat betapa gampangnya mereka mengeluarkan uang untuk mereka sendiri dan kawan-kawannya, sedangkan besok belum tentu mereka masih punya cukup persediaan untuk ongkos. Bagaimana meminjamkan uang pada teman bisa di'ikhlas'kan saja, karena kemungkinan akan dikembalikannya fifty-fifty. Bahkan dulu sempat pula kebiasaan ini terbawa ke barang. CD, Kaset, pakaian, buku, apa lah. Kalau tidak dikembalikan ya ikhlas aja lah. Terkadang hampir kebiasaan ini berujung konflik dengan teman-teman perempuan saya, terutama yang kebetulan amat sangat menyayangi posesinya. Saya sendiri sekarang sudah bisa agak menyesuaikan aturan-aturan tak tertulis saat berkumpul dengan teman perempuan dan teman laki-laki.

Kalau dengan pacar? Hmm, saya ini memang keras kepala, dan saya merasa wajib mengerem beberapa keborosan-keborosannya itu. Saya juga merasa punya kewajiban untuk membantunya menerima bahwa sebagian orang memang lebih suka menggunakan perhitungan cermat untuk segala sesuatu. Terkadang perhitungan lebih baik dibanding keluar kata-kata yang nggak ngenakkin hati sesudahnya, kan? Toh pelit dalam hal materi bukan berarti pelit dalam segala hal.

Satu hal lagi...di depan pacar memang saya jadi si akuntan yang streng, tapi sebenarnya dalam hati saya beranggapan bahwa laki-laki emang nggak pantas pelit...

Posted at 08:04 pm by canta
Comments (2)  

 
Dec 8, 2007
chill out yang merepotkan

Akhir-akhir ini…

Senang dengerin album Ten2Five yang baru.

What I wanna do rite now adalah ngeliat Ten2Five on stage sambil makan makanan enak di suasana outdoor remang-remang. Sekali-kali turun ke lantai dansa kalau pedenya kambuh. Kalo nggak ya goyang2 gak jelas aja di meja makan.

 

Sama siapa ya?? Hehe..agak aneh kalau sama pacar saya secara Ten2Five getttu lowhh.

Well actually I would like to see any chillout or jazz band. Sayangnya uang saya nggak cukup buat nonton Java Jazz maupun Jak Jazz kemarin. Sedangkan JGTC pun nggak bisa dihadiri secara lagi ada acara cadas yang wajib absen.

 

Weh…ingin rasanya tahun baruan di luar kota. Preferably Malang. Selain karena emang sangat kondusif buat bersantai dan berlibur yang adem ayem, juga karena mau menyelesaikan urusan yang tertunda di sana. Which means harus mampir ke Surabaya. Which means biayanya cukup besar ya…tapi jangan pelit ah soal ini.

 

Dinaa..dina, banyak amat sih mau lo?

Hihihi…..

Posted at 01:20 am by canta
Comment (1)  

 
Dec 6, 2007
kertas putih

Saya baru menyadari betapa pucatnya muka saya kalau bangun tidur. bibir saya, apalagi pipi saya, yang memang jarang berwarna, tampak hampir polos, tanpa kilatan maupun semburat.

off-colour, seperti kertas putih

seolah memberikan saya kesempatan untuk mewarnai wajah saya di sisa hari itu, entah dengan warna kesedihan, kemarahan, keceriaan maupun kepuasan

sayangnya saya bukan orang yang pandai melawan apa yang diberikan hari ini pada saya

tapi terima kasih Tuhan, karena telah menunjukkan betapa beruntungnya saya karena masih bisa bangun hari ini dan mendapat pikiran seperti ini. Mungkin hari ini saya akan berusaha lebih dari biasanya karena saya menyukai kertas putih ini

Posted at 05:05 pm by canta
Make a comment  

 
Nov 24, 2007
Gig, lagi lagi gig....dengan terlalu banyak yang terjadi di sekeliling saya
Beginilah yang terjadi kalau dateng ke acara sudah kecapean dan gak niat. Pertama memang gw udah pesimis menjurus apatis dengan mekanismenya. Kedua, hari itu gw sebenarnya ingin merayakan sesuatu berdua dengan pacar gw. Banyak punk-punk yang masih muda dan memakai baju hitam-hitam. Entah dari mana munculnya anak2 itu ya, dengan gitar-gitar kecil alias kentrung mereka dan jalan sempoyongan serta suara yang lantang namun fals. ..meminta masuk dan menyanyi2 di jalanan.

Jadi ini yang namanya pergantian generasi kah? karena bukan cuma gap antara usia tetapi terdapat pula gap antar attitude. Saya nggak mau kedengaran sok tua, dengan bernostalgia dan membandingkan dengan keadaan sekarang, namun karena kita bicara time line, serta perbedaan, ya apa boleh buat.

Sepuluh tahun yang lalu, menjadi punk berarti harus siap memasuki dunia yang luar biasa ajaib dan nggak terduga. Cara berpakaian yang mereka-reka dari luar dengan referensi internet yang amat terbatas, lagu-lagu berbahasa inggris penuh sumpah serapah dan begitu kaya akan warna. begitu banyak perbedaan dan pendapat sampai2 ada celetukan 'lo punk british apa punk rancid? apa punk nazi?' hahaha, konyol sekali. penggolongan yang dibuat berdasarkan emblem di jaket. Padahal kita nggak berada di Inggris maupun berketurunan inggris, nggak kenal ama Rancid dan nggak pernah ke Gilman Street, apalagi ketemu Adolf Hitler atau ikut gerakan fasisnya. Yang ada bisa-bisa ditembak mati kita.

Tapi dibalik kekonyolan itu tersimpan keingin tahuan untuk berkembang, beridentitas dan membedakan diri. Belum lagi mereka yang bereksperimen dengan musik ska, menyerempet skinhead, menyerempet hardcore. Wah, lucu sekali. Sampai-sampai dulu saya pikir skinhead itu anak2 orang yang kebanyakan duit, harus pakai kaos oblong putih dan musik wajibnya adalah operation ivy. Ahh, no offence guys. itu hanya kebodohan saya.

Lalu mulailah kita berkreasi. Yang pertama tentu membuat band. Dengan modal latihan patungan, mengcover lagu2 yang kita suka. Dulu perbedaan antara melodic dengan punk rock gak seekstrim sekarang. Bisa aja kita memainkan sex pistols diselingi NOFX atau not available. Belum tersebar istilah 'anak melodic' yang identik dengan 'baju import+parfum mahal+cewe cakep'.
Yang kedua adalah membuat acara. Selengkat2an dengan istilah 'sell out' dan 'ngartis'. Nggak jelas maunya apa padahal jelas2 dulu masih pada nggak alergi dengan istilah 'EO'. pokoknya kalo ada band yang nyetemnya lama itu ngartis, kalau crew kita nggak boleh masuk 'padahal kenal ama temennya sodara temen se bandnya yang jaga pintu' itu udah sell-out.

Ada juga yang memilih menjadi kolektor sejati. Bela2in ngubek jatinegara mencari kaset punk rock 70 atau 80an. yang modalnya lebih banyak berjibaku di duta suara atau aquarius mencari CD. Ada juga yang sigap memanfaatkan teman atau saudara yang berkesempatan pergi ke luar negeri. jadilah anak2 yang sempat di luar negeri itu figur paling dinantikan dengan segala oleh-olehnya. koleksi kaset, CD dan atribut lainnya memang terkesan materialistis, tetapi mereka yang pernah ngerasain panasnya jatinegara dan pegelnya ngubek2 koleksi toko kaset, nabung mati2an untuk ngorder kaos luar negeri di toko kaset Pasaraya blok M pasti bisa berpendapat, 'man, itu bukan cuma masalah duit'

Harus diakui, zaman dulu itu memang ngaco, memang banyak yang simpang siur hingga timbul berbagai macam kesombongan, kebodohan dan permusuhan. Tapi ada sesuatu yang kita kejar, meskipun nggak jelas apa dan bagaimana. Kita seolah olah dipompakan adrenalinnya untuk berkreasi, membuktikan sesuatu dan bertualang. Yang nggak jelas definisinya ya didefinisikan sesuka kita lah. Hingga timbul definisi 'don't forget the chaos' yang se alaihim jauhnya dari makna lagu itu sendiri. Tapi di tengah kekacauan itu kita menjadi berfikir. Mungkin seperti itulah manifestasi dari pendapat bahwa dunia ini berawal dari kekacauan. The Universe begins with chaos. hingga akhirnya ada beberapa yang berhasil membentuk kelompok dengan jalannya masing-masing.

Hingga ini mengantarkan kita, fast forward sedikit. ke masa kini. Nama yang nggak akan luput adalah Marjinal. Ya, band yang amat legendaris bagi saya. Patut diberi two thumbs up karena keberanian, kepintaran, kekritisan dan kejujuran mereka. Oh dan karena lagu2 mereka yang enak juga pastinya. Kemunculan band yang dulu sempat bernama Anti Abri dan Anti Military ini memang fenomenal. Di saat semua orang masih berlomba2 membeli boots yang keren, mereka malah berani mengucapkan anti konsumerisme dan bagaimana manusia dibodohi oleh produk, termasuk kita, ya kita anak punk yang mencap diri kita berbeda dengan anak2 'gaul' atau 'borjuis' -apa bedanya kita dengan mereka kalau kita menilai seseorang dari kaosnya keren atau nggak serta koleksi CDnya banyak atau sedikit? Di saat orang2 masih berusaha membuat lirik lagu dengan bahasa Inggris belepotan tapi maksain biar terdengar keren, 90% lagu mereka berbahasa Indonesia, bahkan mengambil dari lirik lagu aktivisme yang sedang gencar-gencarnya. Di saat kita apatis dan berusaha hidup di dunia sendiri di luar gejolak yang terjadi di Indonesia, mereka malah menatap perubahan tersebut tanpa berpaling dan terjun ke dalam dunia politik, bahkan berani mendefinisikan 'Anarchy' sebagai jalan hidup. Bukan semata mata sepenggal kata di lagu Sex Pistols atau Exploited. Tentu saja ada juga konsekuensi dan kesalahan yang mereka buat, tetapi tetap saja, Marjinal memang luar biasa.

Dan mereka berhasil membuat jalan. Membuat sub nya sub kultur. Lagu-lagu mereka yang berbahasa Indonesia diserap dengan mudah dan chord2 mereka yang termasuk mudah diikuti membuat mereka mudah dimainkan kapan saja dan dimana saja. termasuk dengan menggunakan 'kentrung' itu tadi. Nggak usah susah-susah ngulik lirik atau cari melodi. Toh basically nada mereka kebanyakan folk, yang nggak mengharuskan kita belajar nge-damp atau melodi. gaya berpakaian? sederhana. Jeans skinny, kaos hitam dan sepatu hitam. Kebanyakan kaosnya pun kaos lokal. Lagu-lagu mereka kebanyakan menyuarakan ketidak-adilan dan kekritisan. ups, maaf. nggak adil kalau saya hanya menyebutkan Marjinal, karena ada band2 lokal lain yang juga mirip karakternya. Lirik bahasa indonesia, easy listening dan kritis. Seperti Bunga Hitam dan Sosial-Sosial.

Marjinal dan teman2nya ini berhasil membuat punk lebih sesuai dengan kondisi Indonesia. Lebih masuk akal dan relevan. Mereka memang keren dan punya sikap yang keren. Rendah hati, nggak mengutamakan golongan atau tongkrongan. Nggak ambisius untuk jadi 'raja acara' atau sok ke bule an. Bersama dengan gelombang ke kritisan yang dulu sempat amat maju, dengan berbagai zine yang terbit sana-sini serta wadah berorganisasi, punk menjadi lebih 'local-minded' dan nggak terlalu abstrak. Setidaknya itu yang saya harapkan dulu. saya sangat optimis dengan itu semua punk menjadi lebih merakyat dan ramah terhadap siapa saja yang meminatinya. Nggak sok elitis dengan istilah-istilah bule dan referensi di Inggris atau US sono. Dengan begitu kita nggak perlu menghabiskan waktu duntuk berdebat dan berlomba-lomba jadi yang terhebat,bukan? kita jadi punya lebih banyak waktu untuk berkreasi, membantu sesama, mengurusi hal-hal 'penting' seperti polusi, global warming, sistem pemerintahan yang bobrok, serta mungkin band-bandnya akan lebih berkembang dan tidak terintimidasi oleh 'band-band dinosaurus' yang crewnya sekampung dan membersnya old skool.

Fast forward lagi ke gig kemarin. Nah, kenapa apa yang saya lihat kemarin nggak nyambung dengan harapan saya yang luar biasa indah itu?Maaf adik-adikku (dih,sapa juga yang ngerasa jadi adik loooo.....)..Ok , maaf teman-temanku, tapi kenapa kalian jadi seperti ini? ya okelah kalau satu dua, bahkan limapuluhan orang atau beberapa tongkrongan seperti itu. Nggak papa, ngerame-ramein. Tapi is this the shape of punk to come di Indonesia? Astaga..saya ngerasa kaya veteran perang kemerdekaan yang geleng-geleng kepala melihat generasi muda. Sumpah, 'duh cucuku, kenapa kau sia-siakan kemerdekaan yang kami perjuangkan untukmu...' Damn!!! sebuah gambaran yang dulu membuat saya muak, namun mungkin patriotisme saya sudah meningkat sekarang.

Sekarang kalian seperti tentara yang berseragam. Semuanya berpakaian hitam-hitam, berbau sama, menyanyikan lagu yang sama, membawa perlengkapan yang sama, bertingkah laku yang sama. Ketebak, kalau nggak ngamen, ya nongkrong. Membosankan. BORING. Padahal Punk itu antitesis dari kebosanan. Apakah Marjinal terbentuk untuk menciptakan kondisi seperti ini? Apakah kestatisan ini yang menjadi hasil dari sekian banyak diskusi, pertengkaran, perkelahian, evolusi, revolusi dan segala tetek bengeknya?Apakah dengan kemudahan mengerti lirik serta mencari chord band2 lokal yang hebat itu kalian jadi tinggal disuapi dan tidak memiliki keinginan untuk belajar? Apakah dengan sikap rendah hati Marjinal dan kawan-kawannya kalian jadi tidak memiliki kekaguman dan keinginan untuk berkenalan dengan pribadi serta kelompok yang lain di scene ini?

Atau saya kah yang ketuaan?hingga nggak bisa memahami kalian dan memandang kalian seperti orang2 'tua' yang dulu saya dan teman-teman cemoohkan dan anggap 'katro'?

Itu hanya sepenggalan pikiran yang timbul di benak saya di saat menghadiri gig kemarin. Hanya awalnya. Karena kalian lah yang saya lihat pertama kali di pintu gerbang. Terlalu banyak pemikiran lain yang berputar-putar di kepala saya kemarin sampai-sampai saya pusing. Dan saya nggak akan berusaha menuangkan semua di sini karena yang baca nanti ikutan pusing atau bosan. Mungkin saya akan menceritakan semua yang saya renungkan kemarin. Atau tidak. Entahlah.

Posted at 10:10 pm by canta
Comment (1)  

 
Nov 22, 2007
Tentang Hati- Hati yang Tinggi dan Sebuah Pertemanan yang tak Pernah Ada
Tadi saya jalan2 dan mampir ke blog salah seorang teman lama yang nggak pernah dekat sama saya.
Satu dari sekian makhluk yang pernah mampir di kehidupan saya dan tidak saya perhatikan benar-benar.

Tapi entah kenapa kami dipertemukan beberapa kali oleh kesamaan. Salah satunya adalah kami sama-sama pengkhianat yang seolah nggak perduli akan teman sendiri. Mungkin dengan orang yang berbeda, tapi kasusnya sama. Ya, dengan orang yang sama pun pernah tapi itu lain kasus, lain cerita. Lebih baik dibungkam karena nggak banyak yang seharusnya tahu.

Selanjutnya, orang-orang mungkin sepintas melihat kami bukan sebagai manusia yang sanggup melakukan itu. Karena sepintas juga kami terlihat seperti penjunjung persahabatan. Solidaritas, brotherhood, sisterhood, pelacur alias pelayan curhat. Dan harus diakui, saya dan dia pun diam-diam bangga akan hal itu. Kami termasuk orang yang mau susah sama-sama. Gila sama-sama. Berontak sama-sama. Dengan teman kami masing-masing tentunya. Kan saya bilang, kami nggak pernah dekat.

Tapi ada satu hal yang juga menjadi kesamaan kami, yang menjadi katalis perbuatan kami yang bisa dibilang sensasional itu: kami punya harga diri. Ego. Pride atau apalah namanya, yang kelewat tinggi. Kami bukan orang yang gampang menertawakan diri sendiri apalagi merendahkan. Pun bukan orang yang senang dihakimi atau diberi stempel oleh orang lain yang merasa mengerti. Bisa dibilang sedikit megalomania. Dan itu bisa membawa kami ke tindakan yang nggak terduga.

Saya sendiri sadar akan hal itu. Komentar yang ringan saja, yang dianggap wajar, bercanda atau mungkin fair dan jujur oleh orang lain, bisa terdengar sama sekali lain di telinga saya. Meskipun - ya, dan saya juga sadar akan hal ini- saya sendiri sering melakukan hal yang sama ke orang lain dengan mulut saya ini.

Oleh karena itu, mungkin sesuatu telah menimbulkan kesinisan tersendiri di hati saya. Bahwa saya, ya, saya, si dekil ini, si aneh ini, si penyendiri ini, bisa saja lebih dari anda. Sakit, memang. emosi yang nggak sehat. Tapi perasaan yang mungkin terselip di benak saya itu telah beberapa kali berperan dalam memberi 'sentilan' untuk lebih nekat dari seharusnya. Dan mungkin ini juga yang terjadi pada teman saya itu. Mungkin orang yang dulu sahabatnya telah membuatnya merasa lebih rendah di beberapa momen tertentu. Mungkin saja... Atau mungkin itu memang cinta?

Atau mungkin saya memang kurang ajar... Nggak tahu lah...
saya toh nggak akan menganggap ini sebagai pembenaran..

Posted at 05:52 am by canta
Make a comment  

 
Aug 2, 2007
BAM!!
It's funny how he seems to know just how and where to hurt me
BAM!
just
like
that.
Posted at 03:58 am by canta
Make a comment  

 
Jul 10, 2007
All I want for my birthday is(/are?)...
all I want for my birthday is
for my mother to get well and be well...

and for me to be able to make her happy...

Posted at 04:57 pm by canta
Make a comment  

Previous Page Next Page