|
-->{journey} |
|
|
|
dreaming,journal-writing, academia punks (or former punks) He looks strangely like a younger version of someone I know. Betraying the generation gap, the dreadlocks, flannel shirt and t-shirts with indechiperable band logos are witnesses to a subculture spanning at least a couple of decades in its survival to date-ailing nonetheless. He writes in a journal with neat letters. My mind jumped to the photograph of stacks of handwritten logs that that aforementioned acquaintance who is now a 40something punk wrote during his stay in what orientalists would have deemed an "untouched" island. He still carries a notepad and pen despite having that fancy e-book tablet. The third, and dearest , writes journals as well. Crust punk wasn't really his cup of tea, though, as far as I know. His was more like punk rock and quirky sounds like The Slits. They all reside in the same continent and plundering away in different universities. I am seriously thinking of establishing an Association of Dreaming, Journal-Writing, Academia Punks (or former punks- the youngest says he's not that keen of the scene anymore.)
Tentang kaset dan waktu Dahulu kala, mendapatkan musik itu nggak semudah sekarang, semata-mata mencolokkan penyimpan data mini ke komputer dan memindahkan lagu-lagu dengan sentuhan jari. Aku masih ingat kala kita menunggu isi satu kaset dipindahkan ke kaset lainnya melalui pemutar kasetmu yang vintage nan kotak nan mono nian itu. (saking mono dan antiknya, bisa saja satu suara instrumen menghilang sama sekali). Terkadang waktu mulai merekamnya kurang pas, kadang pemutarnya harus di'pancing' supaya nggak tersendat tengah jalan, kadang pitanya kusut. Dan selama proses itu kita bercanda, bercerita, berkhayal, dan terkadang sok berkreasi dengan gitar dan suara pas-pasan. Di bawah ibumu sibuk memasak dan tak lama kemudian perut kita pun mulai keroncongan setelah aroma hasil gongsengannya membumbung, menjajah penciuman kita. Setelah kupikir-pikir, aku lebih suka yang nggak instan untuk beberapa hal. Aku lebih suka datang ke rumahmu, berleha-leha dengan komik dan alunan lagu sambil ngobrol ngalor ngidul, sampai terkadang tertidur, daripada janjian denganmu untuk ketemu di kafe dengan batas waktu sekian jam dalam keadaan lelah sepulang kerja atau masih terbawa kegilaan hari kerja meski di hari minggu sekalipun. Aku juga suka sekali masakan rumahmu, lebih daripada masakan yang kita pesan di restoran, karena di rumahmu nggak ada batasan waktu untuk menghabiskan makanan karena mejanya mau dipakai (selain itu memang masakan rumahmu enak). Es itu butuh waktu untuk mencair. Begitupun aku, meskipun banyak yang ingin kuceritakan, namun mungkin tidak dalam suasana macam ketemu klien seperti ini. Tetapi tentu saja itu sulit. Toh, kalau pun aku ke rumahmu sekarang, nggak mungkin juga aku selonong boy masuk kamarmu dan malang-melintang seperti dulu. Jangan-jangan kita perlu kembali ke zaman kaset di mana semua masih punya kesabaran untuk menunggu...
Siapa saya? Saya siapa? Dibilang seniman. Nggak seniman-seniman amat. Dibilang wartawan. Nggak wartawan-wartawan amat. Dibilang aktivis. Sama juga. Nggak segitunya. Dibilang pencinta? Aha, mungkin bisa. Tinggal cari yang tepat saja.
Seharusnya Kalau melihat ke belakang, ada begitu banyak cara yang seharusnya saya bisa lakukan untuk menjadikan waktu kita bersama kemarin lebih menyenangkan. Seharusnya, daripada memaksakan diri pulang saat itu dan kecewa karena kamu sudah makan duluan, saya tarik saja kamu masuk ke ruangan ber ac dan melihat saya makan rumput laut kesukaan saya. Seharusnya, daripada sedih dan lapar nggak jelas saat kamu pergi dengan teman kamu, saya ikut saja dan makan di restoran sebelah dan kemudian membaca buku dengan gembira. Seharusnya, daripada kesal karena kamu tidur dalam waktu yang luar biasa lama dan karena kita mengalami liburan yang malah melelahkan, saya bisa mengungkapkan apa keinginan saya, yaitu menikmati kamu. saat itu juga. Seharusnya, saya melihat lebih seksama kalender hingga kamu bisa menunda kepergian barang sehari-dua hari dan kita bisa melihat pertunjukan sekali setahun yang baru kita omongkan. Banyak sekali. seharusnya. Banyak sekali. air mata yang nggak penting. Maafkan aku, sayang. Selama ini kamu salut dengan ketenanganku, katamu. tapi nyatanya kamu mungkin lebih dewasa dari aku. Dan kamu memang luar biasa. Terima kasih sekali dan Jangan putus asa dulu, ya!
Nggak marah kok Aku tidak menghunus pedang. Cuma mengangkat perisai.
Snippets Stiff little fingers. On the deck. Austen. On the seaside. Tears and snuggles. At the airport. Wait up love, Wait For me
jijaynya cinta Ada cinta yang bisa menjadikan air liur romantis Saat Ia mengalir dari mulutmu ke rambutku Dan dari mulutku ke dekat ketiakmu Beberapa malam lalu, terpejam dalam rengkuhan Ada cinta yang bisa menjadikan muntahan tidak najis Saat terinjak kaki sebangun dari ranjangmu Selepas malam kau mabuk termangu Beberapa minggu lalu, sebelum perpisahan Ada cinta yang bisa menjadikan kentut manis Saat kau melakukannya pertama kali di hadapanku Dan sadar bahwa kau tidak perlu malu Beberapa bulan lalu, ketika kita baru bergumul penasaran Ada cinta Dan kita lebih memanusia
Kesal Karena dia percaya akan pekerjaan ini. karena dia menikmati pekerjaan ini. Karena dia sampai sakit gara-gara pekerjaan ini. Karena dia bukannya terlalu santai, cuma mencoba menghibur diri. Karena dia sangat menyukai kantor ini. Karena angka dan grafik tidak bisa mengukur dedikasi. Karena terlalu melibatkan penilaian pribadi. Karena dia jujur. Karena dia menyenangkan. Karena dia SAMA SEKALI TIDAK LAYAK MENDAPAT PERLAKUAN INI. Ugh! <br> Yang jelas bukan kamu yang rugi, kawan!
The all-night saga of the lovestruck grouch (and his accidental sidekick) I woke up startled at the big blank wall. Then I remembered last night's madness. The spray paints, the ice cream and your frustrated attempts at entertaining her. All those cuts were to no avail, apparently. But that's love, dear friend. You have a lot to celebrate. Grateful am I that I can still be happy for you. Such a present is still a good distance from me, if ever one should come my way. The white slug popped out as I squeezed its house too hard. Mornings, mornings, mornings, they've been so bittersweet lately. But this one's peaceful enough. At least it offered me a light slumber before it came. Well I have to scurry around on my errands as usual. Thank you for making me your temporary hostage . You know my tired eyes are nothing compared to yours as they shone last night, you lovefool.
Sedihtapisudahlah Dari dulu saya tahu dia sangat pragmatis. Oke, jangan pragmatis lah, practical. Hehe. Bahasa halus. Dan saya pahami itu. sangat manusiawi dan sangat tidak munafik. Mungkin karena itu juga lah saya dekat dengannya. Mungkin ada yang bilang dia oportunis tapi ya sudahlah. Yang penting dia penganut oportunisme jujur, tanpa dibalut kata-kata manis atau alasan yang dibuat-buat. Ya sudah. Saya juga penganut rasionalisme, setidaknya sampai taraf tertentu. nggak usah berlebihan lah. Terutama dalam pertemanan. Sewajarnya aja. nggak perlu lah janji-janji muluk 'friends forever', 'through thick and thin' atau sejenisnya seperti di film-film. Tapi ya, terus terang saya masih bisa terkejut saat ini. ketika saya mengalami masalah yang lumayan berat dan dia bukanlah orang yang ada di samping saya. Mungkin ini lebih diperparah lagi karena saya merasa saat ini dia termasuk yang paling dekat dan paling sering menghabiskan waktu dengan saya di luar teman-teman kantor. Kenapa bisa begitu? yah mungkin karena masalah saya ini sangat mempengaruhi dia, hingga berimbas macam-macam mulai dari membuatnya kesal sampai mengganggu tidurnya. Kedua, dia sedang banyak masalah dan nggak mau dibebani oleh satu lagi. Tapi gimana ya, saya ngerasa saya itu lebih dari sekedar suatu masalah. Dan sedih juga kalau cuma itu yang dia lihat dari saya saat ini. Saya bukan cuma marah, sedih atau bingung. Saya juga tawa, semangat dan kasih sayang. Dan saya tau bukan saya saja yang mengalami masalah ini, tapi toh untuk orang yang lain dengan masalah yang sama dia ada. Ih, kaya anak kecil ya? Biarin! sekali-kali saya ngambek. Sekali-kali ngiri. Yang jelas ini bukan pertama kali saya mengalami yang mirip seperti ini. Dan saya berusaha untuk nggak memperlakukan orang seperti ini. HMMMmmmhh...sudahlah...
|